Kembali Menuntut Ilmu Dengan Hati Yang Ikhlas
Bismillahirrahmanirrahim.
Kata ustadz Abu Abdissalam Gebry hafizhahullah,
Allah-lah yang menurunkan semua karunia dan nikmat pada kita. Dan karena Allah-lah Allah yang telah mentakdirkan kita untuk senantiasa tetap tegak di atas agama Islam, Allah-lah yang telah menghadirkan hati kita untuk senantiasa tunduk kepada agama Islam, dan senantiasa pula Allah jadikan nikmat tersebut bertambah-tambah sehingga hati kita senantiasa terpaut dengan Sunnah Rasulnya Muhammad shalallahu'alaihi wasallam.
Sehingga hati kita tetap senantiasa bersemangat, dan tidak putus putus untuk senantiasa bisa hadir (di majelis ilmu), untuk senantiasa menimba ilmu, untuk senantiasa melangkahkan kaki-kaki kita ke rumah-rumah Allah yang mana di dalamnya penuh dengan maghfirah (ampunan), yang di dalamnya penuh dengan rahmat.
Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam,
ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده
"Yang mana suatu kaum berkumpul di suatu rumah Allah, di antara rumah-rumah Allah (masjid) yang ada di permukaan bumi ini, tidaklah mereka berkumpul kecuali mereka untuk memberikan Nasihat, maka tidaklah mereka yang berkumpul dalam rumah Allah tersebut maka Allah akan turunkan padanya sakinah (ketenangan), Allah hamparkan bagi mereka rahmat, Allah kirimkan baginya malaikat sehingga malaikat itu menyebut-nyebut setiap orang yang duduk di antara rumah Allah (masjid) Subhanahu wata'ala, sehingga di sebutlah nama-nama mereka di sisi-Nya, sehingga tidaklah mereka yang duduk di majelis ilmu kecuali Allah Subhanahu wata'ala dalam hadits qudsi di katakan "Aku (Allah) ampuni mereka sampai dia kembali.
Ustadz menjelaskan,
Ilmu yang di maksud adalah ilmu syar'i, kitabullah (al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bukan ilmu yang lain. Karena kemulian ilmu yang dimaksud adalah untuk memuliakan Allah, ilmu yang dimaksud adalah untuk mentauhidkan Allah, ilmu yang dimaksud agar kita berlepas dari selain Allah, dan menjadikan Allah satu-satunya Rabb untuk meminta, satu-satunya Rabb yang kita berharap, kita bersandar penuh dengan-Nya, kita bertawakkal kepadaNya, sehingga kita mengenal hakikat dari pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAABILLAAH, maka disinilah bentuk daripada ilmu seutama-utama dari sebuah ibadah.
Ilmu yang di maksud adalah ilmu syar'i, kitabullah (al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bukan ilmu yang lain. Karena kemulian ilmu yang dimaksud adalah untuk memuliakan Allah, ilmu yang dimaksud adalah untuk mentauhidkan Allah, ilmu yang dimaksud agar kita berlepas dari selain Allah, dan menjadikan Allah satu-satunya Rabb untuk meminta, satu-satunya Rabb yang kita berharap, kita bersandar penuh dengan-Nya, kita bertawakkal kepadaNya, sehingga kita mengenal hakikat dari pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAABILLAAH, maka disinilah bentuk daripada ilmu seutama-utama dari sebuah ibadah.
Sebagaimana dikatakan syaikh ibnu Sholih al-Utsaimin rahimahumullahu Ta'ala beliau mengatakan,
"Memperbaiki ibadah itu jauh lebih penting daripada memperbanyak ibadah."
"Memperbaiki ibadah itu jauh lebih penting daripada memperbanyak ibadah."
Na'am, maksudnya,
“Mengusahakan amalan agar sesuai Sunnah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan."
“Mengusahakan amalan agar sesuai Sunnah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan."
Oleh karena itu Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk ayat 2), - Allah tidak berfirman: “yang paling banyak amalannya” (Sifatush Shalah, 170)
____________________
Muraja'ah: Ustadz Abu Abdissalam Gebry hafizhahullah | Ahad, 22 Desember 2019
Muraja'ah: Ustadz Abu Abdissalam Gebry hafizhahullah | Ahad, 22 Desember 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar