ADAB PENUNTUT ILMU TERHADAP GURU.
(Merujuk pada kitab Syarah hilyah tholibil ilmi)
---------------------------------------------------
JANGANLAH MENDAHULUI GURU DALAM BERBICARA ATAU KETIKA SEDANG BERJALAN.
- Janganlah memotong pembicaraan guru atau janganlah mendahului pembicaraan guru.
- kadang-kadang syaikh mendapati ada sebagian murid-murid yang menjawab sebelum syaikh menjawab (ketika misalnya ada yang bertanya, belum dijawab oleh syaikh/gurunya dia yang menjawab)
- Tidak boleh seperti itu walau pun kita tau jawabannya.
- kalau ada yang bertanya kepada syaikh/guru, maka gurulah yang menjawabnya.
- kecuali jika mungkin di persilahkan oleh guru kita.
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan,
"Terkadang saya marah, maukah engkau kalau saya yang mundur engkau saja yang mengajar?
- Syaikh sampai bicara seperti itu, ini menandakan seseorang tidak beradab. Orang bertanya kepada syaikh, tetapi dia yang jawab.
- Maka tidak boleh (kata syaikh) seorang murid mendahului syaikhnya dalam berbicara atau berjalan.
Termasuk adab buruk, yaitu diantaranya kata syaikh:
- apabila syaikh berjalan untuk keluar dari masjid dan ketika itu alas kakinya penuntut ilmu (sepatu/sandal) nya berada di sebelah kanan dari alas kaki syaikh (berada di samping sandal atau sepatu syaikh) tiba-tiba dia (penuntut ilmu) mendahului syaikh/gurunya untuk mengambil alas kakinya
- ini termasuk mendahului guru dalam berjalan.
- jadi perhatikan, (kita kalau keluar masjid) yang mana sendal atau sepatu guru kita jangan sampai kemudian ketika guru kita ingin keluar (dia hendak memakai sendalnya) kita tiba-tiba memotongnya, (mendahului guru).
Kata ustadz,
- Apalagi sampai kita memakai sandal guru, (daan bepadah) itu sudah ayap. (keterlaluan, zholim)
Termasuk Adab tidak baik:
- Banyak berbicara di depan guru.
Akan tetapi kata Syaikh Ibnu Utsaimin,
Majelis itu berbeda-beda.
- apabila di majelis ilmu maka hendaklah engkau tidak banyak berbicara di depan guru.
- akan tetapi di majelis-majelis biasa maka tidak apa-apa engkau banyak berbicara, tujuannya supaya suasananya hidup. Begitu pula untuk menghibur para hadirin itu tidak mengapa.
Selanjutnya, janganlah memotong pembicaraan guru atau nimbrung.
Dalam pelajaran yang di sampaikan guru, dia memotong apa yang sedang dijelaskan guru, ini juga tidak boleh.
Biasa jika guru sedang menyampaikan ilmu di majelis, ada orang yang bicara dengan teman di sampingnya, bicara bigini dan begitu untuk mengabarkan sesuatu kepada teman yang di sampingnya ini juga termasuk adab yang tidak baik.
- Janganlah ngobrol ketika guru sedang menyampaikankan ilmu.
# Janganlah memaksa guru untuk menjawab pertanyaan.
Misalnya dia bertanya kepada guru, kata gurunya: "tunggu dulu" dia datang lagi bertanya, kata gurunya: "tunggu dulu", jika ustadz tidak jawab dia mengatakan, "ustadz, tidak bisakah menjawabnya?" Atau "Susahkah ustadz pertanyaan saya?"
- kalau tidak bisa di jawab oleh gurunya, sudah tanya saja guru yang lain.
- Mungkin gurunya lagi sibuk, apalagi kalau bertanya lewat hp.
- kadang-kadang ada yang tengah malam miscall (di angkat sama gurunya) ternyata dia hanya bertanya.
- Alangkah baik murid bertanya langsung kepada guru dalam waktu-waktu yang tidak merepotkan guru.
- Kalau tidak di jawab, sabar... si penanya harus sabar terhadap guru.
Mungkin ketika itu gurunya sedang dalam keadaan tidak sehat, atau berhati-hati karena tidak sembarangan untuk menjawab pertanyaan yang kita ajukan tersebut.
- Jauhilah banyak bertanya dalam hal-hal yang tidak penting.
- Terkadang, (kata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah) Sebagian orang itu suka bertanya, (bertanya terus) terkadang pertanyaannya tidak pada tempatnya, bukan dalam termasuk pertanyaan sesuai dengan tema yang di bahas dalam pelajaran tersebut. Maka ini tidak boleh, terlebih lagi ketika di saksikan oleh banyak orang. - Maka ini adalah suatu yang buruk menyebabkan engkau menjadi orang yang congkak, dan menyebabkan gurumu bosan, (maksudnya enggan untuk mengajar) -kalau seperti itu-
Kata ustadz,
"Karena banyak bertanya itu kebiasaannya orang Yahudi, banyak bertanya bukan untuk di amalkan."
_____________
Muraja'ah: Ustadz Arwi Fauzi Asri -hafizhahullah-
Rabu, 25 Desember 2019
Sabtu, 21 Desember 2019
Kembali Menuntut Ilmu Dengan Hati Yang Ikhlas
Kembali Menuntut Ilmu Dengan Hati Yang Ikhlas
Bismillahirrahmanirrahim.
Kata ustadz Abu Abdissalam Gebry hafizhahullah,
Allah-lah yang menurunkan semua karunia dan nikmat pada kita. Dan karena Allah-lah Allah yang telah mentakdirkan kita untuk senantiasa tetap tegak di atas agama Islam, Allah-lah yang telah menghadirkan hati kita untuk senantiasa tunduk kepada agama Islam, dan senantiasa pula Allah jadikan nikmat tersebut bertambah-tambah sehingga hati kita senantiasa terpaut dengan Sunnah Rasulnya Muhammad shalallahu'alaihi wasallam.
Sehingga hati kita tetap senantiasa bersemangat, dan tidak putus putus untuk senantiasa bisa hadir (di majelis ilmu), untuk senantiasa menimba ilmu, untuk senantiasa melangkahkan kaki-kaki kita ke rumah-rumah Allah yang mana di dalamnya penuh dengan maghfirah (ampunan), yang di dalamnya penuh dengan rahmat.
Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam,
ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده
"Yang mana suatu kaum berkumpul di suatu rumah Allah, di antara rumah-rumah Allah (masjid) yang ada di permukaan bumi ini, tidaklah mereka berkumpul kecuali mereka untuk memberikan Nasihat, maka tidaklah mereka yang berkumpul dalam rumah Allah tersebut maka Allah akan turunkan padanya sakinah (ketenangan), Allah hamparkan bagi mereka rahmat, Allah kirimkan baginya malaikat sehingga malaikat itu menyebut-nyebut setiap orang yang duduk di antara rumah Allah (masjid) Subhanahu wata'ala, sehingga di sebutlah nama-nama mereka di sisi-Nya, sehingga tidaklah mereka yang duduk di majelis ilmu kecuali Allah Subhanahu wata'ala dalam hadits qudsi di katakan "Aku (Allah) ampuni mereka sampai dia kembali.
Ustadz menjelaskan,
Ilmu yang di maksud adalah ilmu syar'i, kitabullah (al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bukan ilmu yang lain. Karena kemulian ilmu yang dimaksud adalah untuk memuliakan Allah, ilmu yang dimaksud adalah untuk mentauhidkan Allah, ilmu yang dimaksud agar kita berlepas dari selain Allah, dan menjadikan Allah satu-satunya Rabb untuk meminta, satu-satunya Rabb yang kita berharap, kita bersandar penuh dengan-Nya, kita bertawakkal kepadaNya, sehingga kita mengenal hakikat dari pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAABILLAAH, maka disinilah bentuk daripada ilmu seutama-utama dari sebuah ibadah.
Ilmu yang di maksud adalah ilmu syar'i, kitabullah (al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bukan ilmu yang lain. Karena kemulian ilmu yang dimaksud adalah untuk memuliakan Allah, ilmu yang dimaksud adalah untuk mentauhidkan Allah, ilmu yang dimaksud agar kita berlepas dari selain Allah, dan menjadikan Allah satu-satunya Rabb untuk meminta, satu-satunya Rabb yang kita berharap, kita bersandar penuh dengan-Nya, kita bertawakkal kepadaNya, sehingga kita mengenal hakikat dari pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAABILLAAH, maka disinilah bentuk daripada ilmu seutama-utama dari sebuah ibadah.
Sebagaimana dikatakan syaikh ibnu Sholih al-Utsaimin rahimahumullahu Ta'ala beliau mengatakan,
"Memperbaiki ibadah itu jauh lebih penting daripada memperbanyak ibadah."
"Memperbaiki ibadah itu jauh lebih penting daripada memperbanyak ibadah."
Na'am, maksudnya,
“Mengusahakan amalan agar sesuai Sunnah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan."
“Mengusahakan amalan agar sesuai Sunnah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan."
Oleh karena itu Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk ayat 2), - Allah tidak berfirman: “yang paling banyak amalannya” (Sifatush Shalah, 170)
____________________
Muraja'ah: Ustadz Abu Abdissalam Gebry hafizhahullah | Ahad, 22 Desember 2019
Muraja'ah: Ustadz Abu Abdissalam Gebry hafizhahullah | Ahad, 22 Desember 2019
Rabu, 18 Desember 2019
Selasa, 10 Desember 2019
Bagaimana Mengenal Islam?
Bagaimana mengenal Islam?
Karena harus ada hal yang harus kita tempuh.
- Disebutkan oleh al-imam al-mujaddid Syaikhul Islam Muhammad at-Tamimi rahimahullahu Ta'ala, mengenal islam itu kata beliau,
معرفة دين الإسلام بالأدلة
makrifatu diinul Islami bil adilah
- "Mempelajari, mengenali agama islam -bil adillah- dengan dalil." (Referensi kitab: Al-Ushuuluts Tsalaatsah Wa Adillatuhaa)
Apa itu dalil?
- Dalil itu adalah apa-apa yang datang dari al-Qur`an dan apa-apa yang datang dari hadits-hadits Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, dan apa yang telah di amalkan dan di praktekkan oleh para sahabat.
Itulah cara kita untuk mengenal islam.
- Karena Islam itu sudah terkumpul di dalam al-Qur`an dan di Sunnah Nabi, dan juga telah di amalkan dan di praktekkan oleh para sahabat.
- Kaji al-Qur`an, baca al-Qur`an, bahas al-Qur`an, maka kita akan kenal Islam itu apa.
Dan al-Qur`an itu telah Allah jamin,
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Dzaalikal kitaabu
Itulah kitab (yaitu al-Qur'an)
Laa raiba fiihi
tidak ada keraguan (pada al-Qur`an)
Hudallill muttaqiina
-dan- ia Huda (petunjuk) bagi orang-orang yang bertaqwa.
(Surat al-Baqarah ayat 2)
___________________
#Faidah 11 Rabiu'ul Akhir 1441 Hijriyah
7 Desember 2019 | Semparuk.
Muraja'ah: Ustadz Syamsidar Mahyan Su'ud hafizhahullahu Ta'ala.
Karena harus ada hal yang harus kita tempuh.
- Disebutkan oleh al-imam al-mujaddid Syaikhul Islam Muhammad at-Tamimi rahimahullahu Ta'ala, mengenal islam itu kata beliau,
معرفة دين الإسلام بالأدلة
makrifatu diinul Islami bil adilah
- "Mempelajari, mengenali agama islam -bil adillah- dengan dalil." (Referensi kitab: Al-Ushuuluts Tsalaatsah Wa Adillatuhaa)
Apa itu dalil?
- Dalil itu adalah apa-apa yang datang dari al-Qur`an dan apa-apa yang datang dari hadits-hadits Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, dan apa yang telah di amalkan dan di praktekkan oleh para sahabat.
Itulah cara kita untuk mengenal islam.
- Karena Islam itu sudah terkumpul di dalam al-Qur`an dan di Sunnah Nabi, dan juga telah di amalkan dan di praktekkan oleh para sahabat.
- Kaji al-Qur`an, baca al-Qur`an, bahas al-Qur`an, maka kita akan kenal Islam itu apa.
Dan al-Qur`an itu telah Allah jamin,
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Dzaalikal kitaabu
Itulah kitab (yaitu al-Qur'an)
Laa raiba fiihi
tidak ada keraguan (pada al-Qur`an)
Hudallill muttaqiina
-dan- ia Huda (petunjuk) bagi orang-orang yang bertaqwa.
(Surat al-Baqarah ayat 2)
___________________
#Faidah 11 Rabiu'ul Akhir 1441 Hijriyah
7 Desember 2019 | Semparuk.
Muraja'ah: Ustadz Syamsidar Mahyan Su'ud hafizhahullahu Ta'ala.
Jumat, 06 Desember 2019
Perhiasan Bagi Seorang Penuntut Ilmu
Faidah-faidah yang merujuk pada kitab "Syarah Hilyah Tholibil Ilmi, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.
Faidah Diambil dari Al-Ustadz Ahmad Zainuddin. Lc -hafizhahullah-
Adab pertama [IKHLAS]
- Seorang Penuntut ilmu agama harus IKHLAS
Ustadz berkata:
Ikhlas adalah Hendaknya engkau tidak menuntut atas amal ibadahmu seorang yang melihatmu kecuali Allah, dan tidak mencari atas amal ibadahmu seorang yang memberi ganjaran, pahala, hadiah, kecuali Allah. Itulah ikhlas
Maka ketika seseorang ikhlas dalam menuntut ilmu maksudnya adalah,
- Dia meniatkan di dalam dirinya untuk mengangkat kebodohan darinya dan mengangkat kebodohan dari orang lain. Itulah ikhlas dalam menuntut ilmu agama.
- Dia tidak ingin ada yang melihatnya, tidak menuntut ada yang melihatnya, kecuali Allah.
- Dia tidak menuntut ada yang memberikan ganjaran hadiah, sanjungan, penghargaan, pujian, kecuali Allah.
Itu ikhlas di dalam beramal termasuk di dalam menuntut ilmu agama.
- Apabila seorang menuntut ilmu agama bukan karena ikhlas tapi karena ingin mendapatkan dunia maka yang ada adalah bencana baginya.
- Sebagaimana dalam hadits riwayat imam Ahmad, Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam bersabda,
"Siapa saja yang belajar sebuah ilmu (agama) yang semestinya di tuntut (karena) wajah Allah, tetapi dia tidak menuntutnya kecuali karena ingin mendapatkan perhiasan dari dunia maka niscaya dia tidak mendapatkan bau surga pada hari kiamat.
- Orang yang yang ikhlas nanti dia akan jauh dari sifat suka popularitas.
- Orang yang ikhlas dalam menuntut ilmu agama dia tidak ingin di kenal oleh orang, bahwasanya dia seorang penuntut ilmu agama.
- Dia juga kalau ikhlas dalam menuntut ilmu agama, dia tidak ingin untuk terlihat di atas dari kawan-kawannya sesama penuntut ilmu agama.
- orang yang ikhlas dalam menuntut ilmu agama dia jauh dari ingin di puji oleh manusia.
- Dia jauh ingin di acungi jempol oleh manusia.
- Dia jauh ingin agar orang-orang melihat kepadanya dengan wajah yang takjub.
Dia jauh dari perkara-perkara tersebut. Penuntut ilmu agama jauh dari hal-hal tersebut.
Ustadz Ahmad Zainuddin beliau berkata:
"Ada perkataan menarik yang di sebutkan dari Syaikh Bakr Abu Zaid -rahimahullahu-, ketika Syaikh berbicara tentang ikhlas, beliau berkata,
- "Orang yang ikhlas dalam menuntut ilmu agama, dia tidak ingin popularitas. (terkenal sebagai penuntut ilmu agama)
- kalau kalangan dari ustadz dia tidak ingin harus terkenal di sosial media, dimana-mana, dimintai photo orang. Ini tanda orang tidak ikhlas.
Ustadz Ahmad Zainuddin hafizhahullah juga berkata:
"Ada perkataan menarik yang disebukan di dalam kitab ash-showarin Wal Asinnah yg di tulis oleh Abu Madiyan as-sinqithi as-Salafiy, bahwa:
- "Ketergelincirnya seorang yang berilmu karena dia suka ditumpuki dengan genderang (artinya terkenal) biasanya orang-orang yang terkenal itu banyak kekeliruan.
Maka hati-hatilah para ikhwan yang di rahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ada lagi perkataan Sufyan ibn Masruq Ats-Tsaury -rahimahullahu Ta'ala- sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab Tazkiratus Sami' Wal Mutakallim:
- "Dulu, aku sangat mudah memahami al-Qur'an, tapi ketika sudah aku mulai terkenal, di cabut pemahamanku terhadap Al-Qur'an tersebut." Ini hati-hati.
- Para penuntut ilmu, maka jahui sifat tidak ikhlas.
- salah satu bentuk sifat tidak ikhlas adalah dia senantiasa menginginkan terkenal, popularitas, penuntut ilmu dekat dengan ustadz, dan semisalnya.
Sebagaimana perkataan Sufyan bin Sa'id bin Masruq Ats-Tsauri rahimahullah dinukil di dalam kitab al-Jami' li adabi rawi wa akhlaqi Sami'
- "Tidak ada sesuatu pun yang paling sulit aku mengobatinya, dibandingkan Niatku, karena ia selalu berbolak-balik."
Umar bin Abi Dzar berkata kepada bapaknya (ibnu Dzar):
- "Wahai bapakku, mengapa jika seandainya engkau memberikan nasehat (kepada manusia) masuk ke dalam (relung) hati mereka? (sampai-sampai mereka menangis), tetapi jika selain engkau memberikan nasehat mereka tidak menangis. Maka sang bapak (ibnu Dzar) mengatakan, "Wahai anakku, bukanlah tangisan yang berasal dari dalam lubuk hati itu seperti yang di sewa. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada engkau."
- Maka perhatikan baik-baik Niat tak kala kita menuntut ilmu agama.
Adab yang kedua
- Bagi seorang penuntut ilmu agama adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan mewujudkan rasa cinta tersebut dengan mengikuti Rasulullahi Shalallahu 'alaihi wasallam.
- Sebagaimana disebutkan didalam surat ali Imran ayat 31, "Katakan Wahai Muhammad (kata Allah), jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian.
- ayat ini di sebut oleh para ulama ayatullimtihan (ayat ujian), ujian bagi siapa saja yang mengaku mencintai Allah, diuji dengan pengikutannya terhadap Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.
- imam ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini beliau mengatakan, "Ini adalah ayat ujian bagi siapa saja yang mengaku mencintai Allah subhanahu wa Ta'ala.
- imam ibnu katsir mengatakan, "Ayat ini adalah hakim, pemutus keputusan bagi siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah subhanahu wa Ta'ala, tetapi dia tidak dijalan (Sunnah) Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, maka pada saat yang bersamaan sebenarnya dia dalam dusta atas pengakuannya, sampai dia mengikuti ajaran Nabi, agama Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam di dalam seluruh perbuatannya dan di dalam seluruh perkataannya.
Insya Allah bersambung.
______________________
Silahkan share atau copas untuk berbagi faidah, tapi mohon jangan di sebutkan nama penulisnya dari kami. Jazakumullahu khayran
Faidah Diambil dari Al-Ustadz Ahmad Zainuddin. Lc -hafizhahullah-
Adab pertama [IKHLAS]
- Seorang Penuntut ilmu agama harus IKHLAS
Ustadz berkata:
Ikhlas adalah Hendaknya engkau tidak menuntut atas amal ibadahmu seorang yang melihatmu kecuali Allah, dan tidak mencari atas amal ibadahmu seorang yang memberi ganjaran, pahala, hadiah, kecuali Allah. Itulah ikhlas
Maka ketika seseorang ikhlas dalam menuntut ilmu maksudnya adalah,
- Dia meniatkan di dalam dirinya untuk mengangkat kebodohan darinya dan mengangkat kebodohan dari orang lain. Itulah ikhlas dalam menuntut ilmu agama.
- Dia tidak ingin ada yang melihatnya, tidak menuntut ada yang melihatnya, kecuali Allah.
- Dia tidak menuntut ada yang memberikan ganjaran hadiah, sanjungan, penghargaan, pujian, kecuali Allah.
Itu ikhlas di dalam beramal termasuk di dalam menuntut ilmu agama.
- Apabila seorang menuntut ilmu agama bukan karena ikhlas tapi karena ingin mendapatkan dunia maka yang ada adalah bencana baginya.
- Sebagaimana dalam hadits riwayat imam Ahmad, Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam bersabda,
"Siapa saja yang belajar sebuah ilmu (agama) yang semestinya di tuntut (karena) wajah Allah, tetapi dia tidak menuntutnya kecuali karena ingin mendapatkan perhiasan dari dunia maka niscaya dia tidak mendapatkan bau surga pada hari kiamat.
- Orang yang yang ikhlas nanti dia akan jauh dari sifat suka popularitas.
- Orang yang ikhlas dalam menuntut ilmu agama dia tidak ingin di kenal oleh orang, bahwasanya dia seorang penuntut ilmu agama.
- Dia juga kalau ikhlas dalam menuntut ilmu agama, dia tidak ingin untuk terlihat di atas dari kawan-kawannya sesama penuntut ilmu agama.
- orang yang ikhlas dalam menuntut ilmu agama dia jauh dari ingin di puji oleh manusia.
- Dia jauh ingin di acungi jempol oleh manusia.
- Dia jauh ingin agar orang-orang melihat kepadanya dengan wajah yang takjub.
Dia jauh dari perkara-perkara tersebut. Penuntut ilmu agama jauh dari hal-hal tersebut.
Ustadz Ahmad Zainuddin beliau berkata:
"Ada perkataan menarik yang di sebutkan dari Syaikh Bakr Abu Zaid -rahimahullahu-, ketika Syaikh berbicara tentang ikhlas, beliau berkata,
- "Orang yang ikhlas dalam menuntut ilmu agama, dia tidak ingin popularitas. (terkenal sebagai penuntut ilmu agama)
- kalau kalangan dari ustadz dia tidak ingin harus terkenal di sosial media, dimana-mana, dimintai photo orang. Ini tanda orang tidak ikhlas.
Ustadz Ahmad Zainuddin hafizhahullah juga berkata:
"Ada perkataan menarik yang disebukan di dalam kitab ash-showarin Wal Asinnah yg di tulis oleh Abu Madiyan as-sinqithi as-Salafiy, bahwa:
- "Ketergelincirnya seorang yang berilmu karena dia suka ditumpuki dengan genderang (artinya terkenal) biasanya orang-orang yang terkenal itu banyak kekeliruan.
Maka hati-hatilah para ikhwan yang di rahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ada lagi perkataan Sufyan ibn Masruq Ats-Tsaury -rahimahullahu Ta'ala- sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab Tazkiratus Sami' Wal Mutakallim:
- "Dulu, aku sangat mudah memahami al-Qur'an, tapi ketika sudah aku mulai terkenal, di cabut pemahamanku terhadap Al-Qur'an tersebut." Ini hati-hati.
- Para penuntut ilmu, maka jahui sifat tidak ikhlas.
- salah satu bentuk sifat tidak ikhlas adalah dia senantiasa menginginkan terkenal, popularitas, penuntut ilmu dekat dengan ustadz, dan semisalnya.
Sebagaimana perkataan Sufyan bin Sa'id bin Masruq Ats-Tsauri rahimahullah dinukil di dalam kitab al-Jami' li adabi rawi wa akhlaqi Sami'
- "Tidak ada sesuatu pun yang paling sulit aku mengobatinya, dibandingkan Niatku, karena ia selalu berbolak-balik."
Umar bin Abi Dzar berkata kepada bapaknya (ibnu Dzar):
- "Wahai bapakku, mengapa jika seandainya engkau memberikan nasehat (kepada manusia) masuk ke dalam (relung) hati mereka? (sampai-sampai mereka menangis), tetapi jika selain engkau memberikan nasehat mereka tidak menangis. Maka sang bapak (ibnu Dzar) mengatakan, "Wahai anakku, bukanlah tangisan yang berasal dari dalam lubuk hati itu seperti yang di sewa. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada engkau."
- Maka perhatikan baik-baik Niat tak kala kita menuntut ilmu agama.
Adab yang kedua
- Bagi seorang penuntut ilmu agama adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan mewujudkan rasa cinta tersebut dengan mengikuti Rasulullahi Shalallahu 'alaihi wasallam.
- Sebagaimana disebutkan didalam surat ali Imran ayat 31, "Katakan Wahai Muhammad (kata Allah), jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian.
- ayat ini di sebut oleh para ulama ayatullimtihan (ayat ujian), ujian bagi siapa saja yang mengaku mencintai Allah, diuji dengan pengikutannya terhadap Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.
- imam ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini beliau mengatakan, "Ini adalah ayat ujian bagi siapa saja yang mengaku mencintai Allah subhanahu wa Ta'ala.
- imam ibnu katsir mengatakan, "Ayat ini adalah hakim, pemutus keputusan bagi siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah subhanahu wa Ta'ala, tetapi dia tidak dijalan (Sunnah) Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, maka pada saat yang bersamaan sebenarnya dia dalam dusta atas pengakuannya, sampai dia mengikuti ajaran Nabi, agama Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam di dalam seluruh perbuatannya dan di dalam seluruh perkataannya.
Insya Allah bersambung.
______________________
Silahkan share atau copas untuk berbagi faidah, tapi mohon jangan di sebutkan nama penulisnya dari kami. Jazakumullahu khayran
Langganan:
Postingan (Atom)